Selasa, 28 Mei 2019

POTRET BURAM LAKU KADER IPMB

(Simpangsiur Laku kader di tengah ruang politik 2019)

Oleh : M. Azrul Marsaoly
(Anggota Biasa IPMB)



      Telos sebuah organisasi pada prinsipnya adalah sebagai wadah yang mampu melahirkan pemikir-pemikir yang berintelek, visioner, dan progresif. Berbicara ihwal organisasi tentu tidak terlepas dari prinsip-prinsip dasar organisasi diantaranya adalah; Perilaku organisasi, etika dalam organisasi, dan kemampuan merekonsiliasi (Penyatuan) seluruh kader dalam mencapai tujuan bersama. (Baca, Manajemen Organisasi. hal 12)

Menapaki perjalanan Ikatan Pelajar Mahasiswa Bicoli (IPMB) merupakan usia yang cukup panjang dan matang dalam setiap periodesasi kepemimpinan. IPMB yang statusnya sebagai wadah organisasi mahasiswa bertaraf kampung-kampung telah banyak melahirkan alumni-alumni yang mumpuni baik dalam ranah birokrasi, legislasi, dan entrepeneur. Hal demikian karena bergejolaknya semangat para alumnus dalam keseriusan mengemban tuntutan akademik dan tuntutan terhadap wadah yang di geluti.

 Sejalan dengan hal ini kader IPMB periode 2018-2019 mempunyai andil serta peran aktif untuk menjaga keharmonisan dalam berorganisasi di tengah mirisnya konstalasi politik 17 april  mendatang. Namun ironisnya, yang terjadi saat ini internal IPMB sedang mengalami disintegrasi dalam menjalankan aktifitas keorganisasian akibat banyaknya ragam Vestesd In Terst (kepentingan) yang di nampakan. Bahkan nyaris menjadi diskursus  dalam setiap argumen yang dilontarkan. Lebih parahnya lagi dalam momentum Milad ke-29 IPMB yang merupakan perayaan harlah (hari lahir) perdana yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan bersama sesama kader IPMB dalam menjemput serta menyukseskan kegiatan tersebut malah terjadi adanya anomali kader dalam merespond akan hal ini. IPMB yang seyogianya tidak disangkut-pautkan dengan ganasnya drama dan keadaan politik yang sedang memanas, kini telah menjadi sumber akan hal demikian sehingga adanya ketidakpeduliaan terhadap kepentingan organisasi tercinta (IPMB) dalam memperingati hari tetesnya ibu susuan tercinta. 

      Sentimen yang senantiasa diperlihatkan adalah minimnya keikutsertaan dan partisipasi, baik itu berupa ide maupun tenaga dalam menyukseskan kegiatan. Padahal berbeda dalam pilihan adalah suatu hal yang lumrah sebagaimana sabda sistem demokrasi yakni, “ Setiap orang memiliki hak dipilih dan memilih”. Lantas gerangan berbalut nestapa apa sehingga lahirnya inggubrisitas (ketidakpeduliaan) kader terhadap perayaan milad ke-29 IPMB?. Gerangan ini mungkin patut dipertanyakan agar supaya tidak ada kekeliruan dalam menginterpretasi jalan pikiran yang sedang dilanda kebisuan dalam meratapi masa depan demokrasi.

TUAN, HUJAN DI AKHIR MEI & RINDU KU.

Oleh : Karsilahayat
Catatan 27 Mei 2019


Tak terasa, sudah banyak narasi yang ku rangkai untuk mewakili rindu yang kian membara.
Logika liarku berusaha memaknai berbagai narasi milik ku dan ternyata derasnya hujan di akhir mei kembali menyapa rindu.
Tuan.. !

Pada akhirnya hujan di akhir mei ini membuat ku berusaha memaknai riandu yang kian bersemayang dengan berbagai ilusi yang tak menentu.!!
Butiran-butiran kristal yang berhamburan seakan memberi pesan bahwa bumi pun merindu.

Hawa sejuk menemani suasana yang tak lagi menentu lantas aku kembali melihat senyummu memberi isyrat yang berbeda ketika hujan kembali redah.
Tuan.!!
Kau tahu??

Ingat ku, kau pernah berjanji pada ku di pekan lalu tepatnya di batas persampingan jalan itu, tapi nyatanya semua hanyalah fatamorgana.

Hujan di Akhir mei memang memberi kesejukan pada tubuh tapi tidak dengan hati..!!

Sebab, tergambar pada air hujan yang mengalir tampak terlihat jelas bahwa Tuan memang akan pergi bersamaan dengan air hujan yang mengalir.

Tapi ingat dan berjanjilah Tuan,bahwa kau akan kembali hingga kesejukan pada saat turunya hujan tidak hanya di rasakan oleh tubuh melainkan juga dengan hati.
Ingat Tuan..
Hujan di akhir mei memang memberi kesejukan pada tubuh tapi tidak dengan hati.!!

Bersambung.

Minggu, 26 Mei 2019

EVIDENSI PEMILIHAN UMUM 2019

(Sebuah Telaah Kritis Tentang Pemilu)

Oleh : Muh. Azrul Marsaoly
(Anggota IPMB Hal-Tim)


Dalam rentang sejarah perjalanan umat manusia, tidak jarang banyak persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupan sosialnya. Hal demikian terutama disebabkan banyaknya ragam Vestesd In Terst (kepentingan) antara masing-masing kelompok dalam suatu komunitas masyarakat. dalam rangka meminimalisir adanya konflik kepentingan atau kerap juga disebut beda pendapat ini, maka tidak jarang langkah preventif yang ditempuh adalah dengan mendirikan suatu wadah atau organisasi. Organisasi pada prinsipnya merupakan sebuah wahana yang di dalam terhimpunya berbagai macam elemen sosial yang memiliki tujuan.

Pemilihan umum (Pemilu) merupakan instrumen untuk mewujudkan kedaulatan rakyat. Sebagaimana dalam Undang-undang Dasar tahun 1945 hasil amandemen  ketiga, menyatakan bahwa Pemilihan umum dilaksanakan  untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Pasal 22 ayat 2), yang fungsinya adalah untuk memilih anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden dan DPRD untuk jabatan publik, guna membicarakan terkait proses demokrasi di Indonesia serta mewujudkan kepentingan rakyat. Pemilihan umum (Pemilu) juga merupakan sarana terciptanya demokrasi yang aman, damai, dan tentram. Pemilu yang diselenggarakan pada tanggal 17 april  kemarin hemat penulis banyak memberikan kesan dan pesan demokrasi kepada khalayak masyarakat indonesia pada umumnya dan maluku utara pada khususnya. Sebab, pemilu serentak yang diselenggarakan pada tanggal 17 kemarin secara institusional di integrasikan dua institusi (lembaga) yang menjadi objek dalam pemilu 2019 yakni legislatif (Pemilihan DPR, DPD dan DPRD) dan eksekutif (Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden), ini menunjukan bahwa pesan demokrasi “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” harus di pegang teguh serta diimplementasikan oleh kedua lembaga untuk mewujudkan kepentingan rakyat secara holistik.

      Konstalasi politik pemilu 2019 pun sungguh miris dan memprihatinkan, sebab praktek money politik (Politik uang) masi saja dipraktekkan oleh para politisi yang turut berkompetisi pada ajang kontestasi politik. Memang tidak menutupkan kemungkinan setiap momentum politik tentu tidak terlepas dari hal finansial yang menjadi modal utama dalam berkompetisi untuk memenangkan kontestasi, namun tidak semua aktor (kandidat) politik terlibat dalam praktek distorsi pemilu tersebut, ada juga beragam taktik  dan strategi politik lain yang dimainkan. Namun ironisnya tidak hanya sebatas money politik, tetapi silaturahmi dan ukhuwah yang telah di bangun dan dirajut bertahun-tahun pun nyaris runtuh akibat sanking fanatisnya dalam berpolitik.

Dampak lain pemilu 2019 adalah munculnya perselishan dan konflik antara sesama keluarga karena berbeda pilihan. Ini di karenakan kurang dewasanya dalam berpolitik serta minimnya diseminasi tentang hakikat sistem demokrasi yakmi “Setiap orang memiliki hak memilih dan dipilih” Oleh karena itu, saran saya diakhir kalimat ini kita seyogianya  dewasa dalam berpolitik sebab beda pendapat adalah suatu hal yang lumrah. Sekian ***

ILMU PENGETAHUAN DI TENGAH ARUS GLOBALISASI

(Sebuah Telaah Kritis Mengungkap Pentingnya Ilmu Pengetahuan Bagi Generasi Muda)

Oleh : Muh Azrul Marsaoly
(Kader HMI Kom. FKIP Unkhair Ternate)


     Potret perjalanan ilmu pengetahuan adalah sebuah ilustrasi yang harus di ungkap dan dijadikan diskursus (wacana) dalam menghadapi rentetan problematika yang menjadi tantangan kita secara bersama (generasi muda) dalam menjalankan aktifitas kehidupan. Ilmu pengetahuan atau dalam istilah ilmiahnya kerap disebut sains merupakan satu kebutuhan vital yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda yang senantiasa berpikir progres (Homo Sapiens). Sebab, ilmu pengetahuan adalah disiplin ilmu yang dapat memberikan satu kreatifitas berpikir seseorang dalam laku kesehariannya. Hal ini mengindikasikan bahwa betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam meneropong dan    memproyeksi maraknya arus globalisasi yang terjadi saat ini.

Dalam menapaki perjalanan ilmu pengetahuan tentu tidak terlepas dari pemikiran kritis para tokoh yang senantiasa memberikan konstribusi gagasan yang dijadikan sebagai acuan dalam ilmu pengetahuan. Beragam teori yang dikemukakan para tokoh tentang ilmu pengetahuan acapkali dijadikan sebagai landasan argumentasi dalam mengawali dan membendung derasnya arus globalisasi.Namun ironinya, seiring dengan berjalannya waktu yang begitu pesat, potret kehidupan saat ini tidak lagi menjadikan ilmu pengetahuan (kecerdasan) sebagai energi dan kekuatan dalam menghadapi globalisasi. Melainkan peran ilmu pengetahuan yang dahulunya menjadi suatu konsepsi dan proyeksi dalam menjawab maraknya keterpurukan suatu realitas globalisasi, kini tidak lagi dijadikan sebagai langkah preventif (mencegah) dalam menjawab fenomena yang kian mengkooptasi cara berpikir generasi muda, sehingga tidak lagi memandang ilmu pengetahuan sebagai rujukan dalam menyelesaikan problem global yang semakin mencekam.

Sejalan dengan perkembangan globalisasi saat ini, ilmu pengetahuan seharusnya dijadikan sebagai dalih dalam menjawab dan menghadapi terkikisnya laku sosial generasi muda yang kian mengalami degradasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan tersebut maka diperlukan adanya konsentrasi terhadap ilmu pengetahuan sebagai langkah preventif tergerusnya generasi muda dalam pengaruh globalisasi. Hemat kata, globalisasi saat ini merupakan tantangan besar generasi muda dalam menghadapi terkikisnya moralitas yang mengakibatkan kurangnya hubungan laku sosial sesama generasi muda.. Ilmu pengetahuan dalam kacamata sosial juga memiliki peran serta sebagai wahana dalam penyelesaian konflik yang bersentuhan langsung dengan perilaku sosial masyarakat maupun generasi muda saat ini, peranan ilmu pengetahuan dalam tatanan sosial yang kerap terjadinya konflik Vesteds In Terst (Kepentingan) adalah membentuk pola pikir masyarakat untuk memahami ragam kepentingan (beda pendapat) sebagai suatu hal yang lazim dalam berdemokrasi di tengah-tengah mendominasinya arus globalisasi. Realitas telah menjawab bahwa ada beragam perilaku sosial generasi muda yang sedang mengalami ketimpangan, baik sikap tidak saling menghargai (etika), dan ketidakpeduliaan (inggubrisitas) terhadap kepentingan umum (kepentingan masyarakat). Hal demikian di akibatkan lemahnya kepeduliaan generasi muda terhadap problem yang menimpa (arus globalisasi), sehingga kaum muda yang seharusnya tidak mudah terkooptasi dengan hal-hal yang bersifat hedonistik kini menjadi bahan konsumtif dalam setiap laku kehidupan.

Derasnya globalisasi saat ini memberi efek negatif terhadap generasi muda yang menjalankan rutinitas sebagai kaum muda yang kerap dikenal sebagai taring revolusioner dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Dengan derasnya arus globalisasi tersebut kini generasi muda tidak lagi memperioritaskan ilmu pengetahuan (kecerdasan) sebagai corak pembaharu dalam membuat satu kreatifitas eksotis di era postmodernisme saat ini, melainkan teknologi (gadged) yang menjadi tranding topik dalam membuat kreatifitas. Ilmu pengetahuan yang konon katanya sebagai cahaya dalam kehidupan pun telah sirna, di akibatkan maraknya globalisasi yang mencoba mempengaruhi kaum muda dalam suatu jebakan konspirasi. Upaya konspirasi dalam globalisasi tentu tidak lain adalah mencoba menggiring seluruh generasi muda dalam realitas global yang telah teraktualisasi secara persuasif, bahkan secara realitas generasi muda telah berada pada satu titik ambang kritis moralitas yang di akibatkan pesatnya pengaruh globalisasi di negri ini. Lantas, apa yang harus di lakukan oleh generasi muda dalam mengembalikan kiprahnya sebagai taring revolusioner dalam menghadapi serta membijaki persoalan global yang semakin bergejolak dalam tatanan kehidupan generasi muda saat ini.  Salahsatu upaya untuk generasi muda tetap berada pada kiprahnya sebagai taring revolusioner adalah mampu mengeliminasi persoalan-persoalan arus global yang kini menjadi virus dalam aktifitas kesehariannya, hal demikian tentu menjadi tanggung jawab kita bersama secara kolektif dalam menjawab dan menghadapi zaman mutakhir yang ditandai dengan penuhnya beragam teknologi sehingga mengakibatkan generasi muda tidak lagi menggunakan kecerdasan (Intelectual) nya, dalam membuat suatu kreatifitas sesuai dengan potensinya, melainkan dengan bantuan teknologi (gadget) yang menjadi miniatur untuk membuat satu kreatifitas. Dalam menjawab problematika yang secara kasat mata mampu memberi dampak negatif terhadap generasi muda saat ini, merupakan tanggung jawab kita dalam menjaga moralitas generasi muda yang di pengaruhi oleh maraknya globalisasi. Olehnya itu, untuk tetap menjaga marwah generasi muda di tengah-tengah merosotnya kehidupan ini adalah membangun suatu lintas komunikasi antara beragam generasi muda indonesia untuk tidak serta merta terkooptasi (terpengaruh) dengan pengaruh globalisasi. 

Fenomena tersebut merupakan langkah awal dalam berperannya Ilmu pengetahuan di tengah-tengah kehidupan yang mengalami hiruk pikuk maraknya globalisasi yang kerap dijadikan sebagai bahan konsumtif generasi muda hendak melakukan aktifitas keseharian. Sejalan dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, sudah barang tentu generasi muda harus mengambil peran penting di tengah-tengah maraknya globalisasi serta mampu tampil di garda terdepan dalam menjawab tantangan zaman yang menjadi cikal bakal dalam munculnya degradasi kehidupan.

 Maraknya globalisasi tersebut kerap menjadikan generasi muda yang secara realitas mampu menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban menjadi nilai-nilai kebiadaban, sehingga laku yang senantiasa di pertontonkan generasi muda saat ini tidak lagi sesuai dengan fitrahnya dalam menjalankan aktifitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dalam diskursus (wacana) ini mestinya generasi muda saat ini hendak lebih jelih dan bertanggung jawab menghadapi derasnyaglobalisasi agar tidak mudah terhipnotis dengan eloknya arus globalisasi saat ini.

   Hal demikian menjadi pelajaran dan tantangan sebagai generasi muda yang konon katanya juga merupakan penyambung estafet reformasi. Namun kini tidak lagi menjadi tonggak reformasi melainkan sebagai biang keladi atas menurunnya reputasi kaum muda di republik ini akibat lemahnya generasi muda dalam megatasi problem yang senantiasa mempengaruhi serta melemahkan ruang gerak generasi muda.

Harapan penulis di tengah-tengah maraknya arus globalisasi ini adalah generasi muda semestinya senantiasa memberikan  pemahaman kepada sesama generasi muda dan khalayak masyarakat agar tidak mudah tergerus dan terhipnotis dengan keelokan arus globalisasi yang kian mencekam.

Sabtu, 25 Mei 2019

Tidak melaksanakan pelantikan, SeOPMI HAL-TIM dinilai mengancam kelangsungan OKK

M. Azwir Marsaoly
Ketua Umum/Demisioner IPMB


Pasca dilaksanakannya Musyawarah Besar ke-XI Sentral Organisasi Pelajar Mahasiswa Indonesia Halmahera Timur (SeOPMI HAL-TIM) pada tanggal 26 Desember 2018 - 17 Maret 2019 setelah terpilihnya saudara Amir Arfak sebagai Ketua Umum periode 2018-2019 hingga memasuki hampir tiga bulan terakhir belum terlihat adanya tanda-tanda akan dilaksanakannya Pelantikan pengurus Sentral Organisasi Pelajar Mahasiswa Indonesia Halmahera Timur (SeOPMI HAL-TIM) masa bakti 2018-2019.

Sebagai organisasi kemahasiswaan yang merangkul hampir seluruh mahasiswa Halmahera Timur yang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Maluku  Utara, SeOPMI HAL-TIM memiliki peran penting dalam membangun sinergitas organisasi dilingkup OKK guna mendorong pelaksanaan program Kerja Organisasi, terutama dilingkup OKK. Apalagi organisasi ini menangungi kurang lebih 20 organisasi kampung-kampung (OKK).

M. Azwir Marsaoly, Mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Bicoli (IPMB) periode 2018-2019 mengatakan bahwa "Jika tidak secepatnya dilaksanakan pelantikan SeOPMI HAL-TIM masa bakti 2018-2019, maka akan berpengaruh dan menghambat jalannya roda organisasi selain SeOPMI HAL-TIM juga berimbas pada organisasi dilingkup OKK yang telah melaksanakan musyawarah, mengingat setiap SK pengurus OKK harus diterbitkan oleh pengurus SeOPMI HAL-TIM", Ungkapnya.

Akibat molornya pelantikan SeOPMI HAL-TIM kini dirasakan oleh Pengurus IPMB periode 2019-2020. M. Azwir Marsaoly mengungkapkan bahwa "Ketua Umum Formateur IPMB saudara Suswadi Abadan telah mengajukan surat permohonan penerbitan SK kepada pengurus SeOPMI HAL-TIM yakni saudara Amir Arfak selaku Ketua Formatur SeOPMI HAL-TIM periode 2018-2019, namun tidak diterbitkan dengan alasan belum memiliki kewenangan mengeluarkan SK sebelum dirinya dilantik",Tuturnya.

"Padahal Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Ikatan Pelajar Mahasiswa Bicoli (IPMB) periode 2019-2020, ditargetkan pelaksanaannya dalam waktu dekat yakni tanggal 8 Juni terpaksa harus ditunda dan menunggu sampai dilaksanakannya Pelantikan Pengurus SeOPMI HAL-TIM Periode 2018-2019", Tambahnya.

Selain itu, M. Azwir Marsaoly juga menyesalkan sikap pengurus lama SeOPMI yang terkesan diam. "Padahal Demisioner SeOPMI juga memiliki tanggung jawab mengawal serta membantu jalannya pelaksanaan pelantikan hingga selesai", Tegasnya.