Oleh : M. Azrul Marsaoly
(Anggota Biasa IPMB)
Telos sebuah organisasi pada prinsipnya adalah sebagai wadah yang mampu melahirkan pemikir-pemikir yang berintelek, visioner, dan progresif. Berbicara ihwal organisasi tentu tidak terlepas dari prinsip-prinsip dasar organisasi diantaranya adalah; Perilaku organisasi, etika dalam organisasi, dan kemampuan merekonsiliasi (Penyatuan) seluruh kader dalam mencapai tujuan bersama. (Baca, Manajemen Organisasi. hal 12)
Menapaki perjalanan Ikatan Pelajar Mahasiswa Bicoli (IPMB) merupakan usia yang cukup panjang dan matang dalam setiap periodesasi kepemimpinan. IPMB yang statusnya sebagai wadah organisasi mahasiswa bertaraf kampung-kampung telah banyak melahirkan alumni-alumni yang mumpuni baik dalam ranah birokrasi, legislasi, dan entrepeneur. Hal demikian karena bergejolaknya semangat para alumnus dalam keseriusan mengemban tuntutan akademik dan tuntutan terhadap wadah yang di geluti.
Sejalan dengan hal ini kader IPMB periode 2018-2019 mempunyai andil serta peran aktif untuk menjaga keharmonisan dalam berorganisasi di tengah mirisnya konstalasi politik 17 april mendatang. Namun ironisnya, yang terjadi saat ini internal IPMB sedang mengalami disintegrasi dalam menjalankan aktifitas keorganisasian akibat banyaknya ragam Vestesd In Terst (kepentingan) yang di nampakan. Bahkan nyaris menjadi diskursus dalam setiap argumen yang dilontarkan. Lebih parahnya lagi dalam momentum Milad ke-29 IPMB yang merupakan perayaan harlah (hari lahir) perdana yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan bersama sesama kader IPMB dalam menjemput serta menyukseskan kegiatan tersebut malah terjadi adanya anomali kader dalam merespond akan hal ini. IPMB yang seyogianya tidak disangkut-pautkan dengan ganasnya drama dan keadaan politik yang sedang memanas, kini telah menjadi sumber akan hal demikian sehingga adanya ketidakpeduliaan terhadap kepentingan organisasi tercinta (IPMB) dalam memperingati hari tetesnya ibu susuan tercinta.
Sentimen yang senantiasa diperlihatkan adalah minimnya keikutsertaan dan partisipasi, baik itu berupa ide maupun tenaga dalam menyukseskan kegiatan. Padahal berbeda dalam pilihan adalah suatu hal yang lumrah sebagaimana sabda sistem demokrasi yakni, “ Setiap orang memiliki hak dipilih dan memilih”. Lantas gerangan berbalut nestapa apa sehingga lahirnya inggubrisitas (ketidakpeduliaan) kader terhadap perayaan milad ke-29 IPMB?. Gerangan ini mungkin patut dipertanyakan agar supaya tidak ada kekeliruan dalam menginterpretasi jalan pikiran yang sedang dilanda kebisuan dalam meratapi masa depan demokrasi.




